Apa pun itu saya hanya seorang “PEJALAN”

Gambar

Akhir-akhir ini istilah backpacker lagi santer banget..banyak buku-buku bertemakan backpacker, banyak travel tour bikin paket backpacker..lagi ngejamur banget lah..
Dulu gw seneng banget kalo ada yang bilang “lo backpacker ya?” tapi kesini-sini gw miki..buat gw itu cuma istilah, bahkan cenderung mengotak-ngotakkan siapa lu…
Sebenarnya inti dibalik kata backpacker adalah orang yang melakukan perjalanan dengan low-cost, menggunakan ransel, dengan durasi yang lama & yang terprnting berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Sedangkan gw selama ini tidak semua-mua gw laksanain. Kl low cost iya, secara memang budgetnya emang adanya segitu. Masalah bawa ransel, gw lihat lebih kearah simple aja, masa iya lu pergi ke pantai dengan dorong-dorng koper. Dengan durasi yang lama, saya belum pernah pergi dengan memakan waktu 1 bulan, 2 bulan, paling lama adalah seminggu. Kenapa durasi yang lama ini muncul dibalik istilah backpacker? Karena mungkin kata backpacker itu sendiri berasal dari barat sana, orang sana kalau libur lu tau sendiri lama..bisa sebulan sampai dua bulan. Sedangkan kita yang notabennya orang indonesia paling lama cuti dalam setahun adalah 12 hari. Tujuan dari persyaratan ketiga ini adalah untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar, semilas mengetahui budaya sekitar, belajar mengenai kebiasaan sekitar. Walaupun selama perjalanan saya juga menggunakan transportasi setempat, tinggal di pemukiman penduduk, ngobrol dengan warga sekitar tapi tidak dengan waktu yang cukup untuk belajar bahkan memahami sebuah budaya setempat.
Teman saya pernah bercerita, dia baca artikel disalah satu maskapai penerbangan yang membahas tentang perbedaan turis dan traveler. Si penulis membedakan hanya berdasarkan pada siapa yang ngatur. Kalau turis diatur segala keperluannya, mulai penginapan sampai dengan transportasi oleh seseorang atau lembaga yang bisa disebut travel biro atau agent. Jadi, semisal kalian ikut jalan bareng sama orang tapi hanya sekedar ikut ngintil saja, ga tau mau kemana dan sama sekali ga tau kondisi sekitar, terima bersih mau kemana dan ngapain, budget juga ikut saja, maka penulis tersbut mengategorikan anda sebagai turis. Sedangkan traveler mengatur semua hal sendiri. Ga ngebedaiin apakah penginapan yang diinapi akan membedakan turis dengan traveler. Jadi mau tinggal di hotel atau hostel, kalau kita atur sendiri si penulis akan mengategorikan anda kedalam traveler. Ada lagi istilah flashbackpaker, yaitu pelancong yang tidak menggunakan jasa agen travel, tapi tetap memperhatikan kemudahan dan kenyamanan, sehingga dana yang dikeluarkan cukup besar.
Seiring berjalannya waktu, bagi saya lebel-lebel seperti itu tidak begitu penting. Saya tidak menyebut diri saya sebagai backpacker, tapi saya memang melakukan perjalanan dengan cara traveling secara independen dengan anggaran minim. Demikian juga turis, explorer, observer, dll, buat saya itu adalah label-label saja. Ada backpacker yang menolak dirinya disebut turis dan keukeuh minta disebut traveler. Buat saya ya lucu aja, karena sebenarnya backpacker itu juga turis yaitu sama-sama mencari hal-hal yang eksotik yang beda dari kehidupannya demi kesenangan sendiri.
Sebut saja saya pejalan, karena saya tidak melakukan semua kategori backpacker seperti diatas yang saya sebutin tadi, apalagi yang sampe mengorbankan tingkat kenyamanan saya. Well awalnya saya melakukan traveling untuk mencari hiburan; kabur dari rutinitas sehari-hari. Saya kurang suka mengotak-ngotakkan karakter. Ada yang bilang turis itu lame, backpacker itu keren. Orang menganggap backpacker lebih jagoan. Tapi menurut saya yang terpenting adalah bagaimana anda mengekspresikan perjalanan anda. Bagi saya traveling, pengalaman  personal masing-masing individu. Itulah kenapa saya kurang suka mengotak-ngotakkan karakter. Turis vs traveler. Backpacker vs suitcaser. Orang boleh menyebut apa saja , saya tidak permasalahkan hal itu selama saya senang dengan apa yang saya lakukan saat traveling. Intinya sih, mau seperti apa gaya jalan-jalan anda, selama tidak merusak alam dan budaya setempat, itu jauh lebih penting dari sekedar embel-embel nama.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s