I Can Dive..Dive..and Dive..

Seiring dengan intensitas traveling yang semakin sering dan passion menjelajah yang semakin membuncah, setidaknya ada tiga hal baru yang ingin sekali saya pelajari. Tiga hal yang kalau sudah saya kuasai, pastinya akan menambah kepuasan saya saat traveling.

Pertama

Saya pengen belajar fotografi, supaya foto-foto perjalanan saya lebih ketje dipandang mata.

Kedua

Saya pengen bisa bawa motor sendiri, supaya lebih leluasa kalau sewaktu-waktu traveling sendiri.

Dan yang ketiga

Saya pengen sekali belajar menyelam.

Kenapa? Sederhana saja, saya tinggal di negara maritim yang hampir 70 persen wilayahnya adalah lautan. Logikanya tentulah ada lebih banyak lagi lukisan Tuhan yang bisa saya nikmati di lautan. Pejalan dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong datang bertamu untuk melihat isi laut Indonesia. Masa, iya saya sebagai tuan rumah cuma bisa dengar cerita mereka sambil leyeh-leyeh di tepian pantainya saja. Ibarat punya rumah mewah lengkap dengan fasilitas kolam renang di halaman belakang, tapi kolamnya gak pernah dipakai lantaran gak bisa berenang. Mu-ba-zir-ba-nget!!

Oleh karenanya, impian ketiga ini saya wujudkan dengan mengambil diving course biar saya bisa punya diving license dan semakin luas memandang hamparan luas keindahan underwater negeri ini.

Memilih Dive Course

Sempat bingung banget awalnya, mau ambil dimana? Banyak banget yang nawarin dengan harga yang menggiurkan. Tanya sana  sini, tergoda yang ini. Tanya apa keungulannya yang sini bilang begini begitu, jadi makin bingung.. tapi hal utama yang saya pikirkan ketika memilih dive course mana yang akan saya ambil adalah KESELAMATAN. Ya..itu harga mati, karena saya tau diving punya resiko yang berat, so buat meminimalisirnya saya harus cari tempat yang bisa kasih saya banyak ilmu agar saya semakin awere dengan resiko-resiko tersebut.

Memang banyak yang menawarkan paket kursus diving dengan harga yang menggiurkan, tapi balik lagi apakah akan safety? Ya saya yakin mereka akan menjaga ke safetyannya.. tapi saya saya butuhkan lebih dari itu… saya cari ilmunya..  saya cari ilmu yang bisa mengajarkan saya mengenai resiko yang timbul akibat diving, dan bagaimana pencegahannya dan pilihan hati jatuh di NAUI.

Kelas Teori Yang Bikin CIUT HATI

Ada lima kali pertemuan yang harus di hadiri selama mengenyam pelatihan menyelam untuk bisa meraih diving license scuba diver. Tiga kali untuk kelas teori, dan dua kali untuk praktik menyelam di kolam. Masing-masing kelas berdurasi antara dua sampai tiga jam.

Sebelum bisa mengikuti kelas scuba diving ini, saya diminta untuk mengisi formulir yang isinya menyatakan kondisi riwayat kesehatan saya. Dari formulir ini akan diketahui dan dinilai, apakah secara rekam medis, saya diperbolehkan untuk melanjutkan pelatihan ini atau tidak. Karena orang-orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti diabetes, asma, dan epilepsi, tidak diperbolehkan untuk menyelam.

Di kelaas teori saya, saya bertemu dengan Bang Anda. Dia yang akan menjadi Instructor selam saya selama kursus. Telisik punya telisik, ternyata doi kakak kelas saya pas di SMP haahaaahaa *satu alumi.. 🙂

Bang anda menjelaskan secara detail seluk-beluk penggunaan dan perawatan diving equipment, dan keseluruhan skill diving. kelas teori ini makan waktu 3 jam dan satu penyakit saya adalah ngantukan..haaahaa jadi suka ga konsen kalau dikasih pertanyaan sama bang anda..*maafkennn… 😦

Untuk materi mengenai scene diving saya bertemu dengan Bang Jhon E. Sidjabat, yang akrab dipanggil BJ. BJ adalah NAUI course director sekaligus pendiri Global Dive Centre. NAUI (National Association of Underwater Instructors) merupakan organisasi pelatihan dan sertifikasi diving terbesar kedua di dunia yang didirikan di Amerika dan telah memiliki kantor perwakilan di berbagai belahan dunia, termasuk wilayah Asia yang berkedudukan di Kuala Lumpur. Tapi untuk bisa memperoleh sertifikasi dari NAUI, nggak perlu jauh-jauh pergi kesana, karena di Indonesia, sertifikasi dari NAUI bisa diperoleh di Global Dive Centre, tempat saya berlatih menyelam.

Kenapa penyelam harus memiliki sertifikat? Sertifikat yang kita punya, menunjukkan kompetensi dan kapasitas menyelam kita. Kalau masih bersertifikat scuba diver, dive guide otomatis nggak akan ngajakin menyelam di kedalaman lebih dari 18 meter, dan nggak akan ngajakin menyelam di spot-spot yang membutuhkan skill khusus setingkat advance diver. Untuk bisa menyewa peralatan menyelam, pun, hampir selalu kita diwajibkan untuk menunjukkan diving license terlebih dulu. Ibarat Surat Ijin Mengemudi bagi para pengemudi, diving license merupakan SIM-nya para penyelam. Surat Ijin Menyelam.

Disamping bercerita tentang berbagai pengalaman ajaib petualangan menyelamnya yang telah menembus angka lima ribu sekian, BJ juga meluruskan sejumlah kesalahan persepsi yang selama ini bertengger di benak saya. Salah satunya tentang karakter hiu yang ternyata tidak berselera dengan daging manusia. Hiu memang terkenal tak jarang menyerang manusia, tapi bukan untuk melahapnya. Justru manusialah yang kini semakin ganas memangsa hiu, mengambil siripnya untuk dijadikan santapan, lalu membuang sisa tubuhnya begitu saja ke lautan. Padahal memangsa hiu berakibat pada rusaknya ekosistem dan kacaunya rantai makanan di lautan.

Menurut BJ, kebanyakan korban serangan hiu adalah justru mereka yang berenang dan snorkeling di permukaan, bukan para penyelam.

BJ juga mengingatkan untuk tidak memberi makan ikan-ikan kecil selama menyelam. Kebiasaan ini justru akan membahayakan penyelam saat menyelam ‘dengan tangan hampa’. Karena terbiasa mendapat ‘oleh-oleh’ makanan, ikan-ikan kecil cenderung akan menyerang penyelam yang ‘tidak membawa apa-apa’.

Lalu sampailah pada sesi materi yang membuat saya gelisah berhari-hari setelahnya. Secara sepintas BJ menyinggung berbagai resiko yang mungkin akan dialami para penyelam. BJ juga sempat bercerita tentang kecelakaan menyelam yang baru saja menimpa penyelam pemula di Pulau Sepa, juga kecelakaan menyelam yang telah merenggut nyawa temannya sesama course director. Tak hanya menghantui penyelam pemula, kecelakaan saat menyelam bisa menimpa siapa saja, termasuk dive master sekalipun… Sepulang dari kelas teori ini, saya langsung berselancar di dunia maya, mencari tahu lebih detail tentang berbagai resiko menyelam. Terutama yang berkaitan dengan aspek medisnya. Karena yang paling saya khawatirkan bukanlah resiko diserang hiu, ular laut atau spesies laut lainnya. Saya justru takut mengalami kepanikan saat menyelam, yang membuat saya melakukan tindakan bodoh dan ceroboh yang bisa membahayakan keselamatan. Karena sewaktu menyelam, konsentrasi kita akan mengalami penurunan yang disebabkan semakin tingginya tekanan di lautan.

Sempat terlintas untuk mengundurkan diri saja, membuang jauh-jauh mimpi saya untuk bisa menyelam…*mama 😦

Tembok penghalang itu bernama “Rasa Takut”

Lalu sampailah saya di kelas kolam. Kali ini saya akan menyelam di kolam renang Senayan yang berkedalaman 3 sampai 5 meter, mempraktikkan sejumlah teknik dasar menyelam yang telah disinggung sebelumnya di kelas teori.

Kelam kolam saya berantakan banget.. haahaahaa alhamdulillah dapat guru yang subbperrr sabar. Sabar ngadepin anak didik macem saya.. 😀

Pertama kali ngolam saya merasa dag dig dug der.. sebenarnya hawatir mati di dasar kolam. Tapi bang anda selalu bilang, “Selama regulator dimulut, kemungkinan mati itu kecil. Kecuali kalau emang udah takdirnya”.

Hal yang tersulit adalah mask clearing, saya harus belajar mask clearing berkali-kali. Sempat putus asa, keinginan untuk mundur pun kembali datang menggoda. Satu per satu kegalauan kembali bermunculan, menari-nari dalam pikiran. Lanjut ga lanjut ga..?? tapi alhamdulillah malaikat baik masih dengan saya.. dan akhirnya di kelas kolam yang ke-lima baru sukses mask clearing.. haaahaa

Wajarnya orang-orang latihan mask clearing dua kali kolam sudah bisa, tapi saya? Belum juga..jadi lah saya ambil tambahan kelas kolam khusus benerin skill mask clearing.

Pramuka Saksi Keberanian SAYA

Pertama kali saya diving -> sesak napas!

Sesak napas belajarnya.. Fisika, Fisika, Fisika, isinya hukum ini, hukum itu.

Sesak napas beratnya.. Tau tabung gas elpiji 3 kg ga? itu berat loh! Tapi tabung selam lebih berat lagi..

Tapi..

Pertama kali saya diving -> ketagihan!

Ketagihan.. Nyebur di air, asikk basah basahan.

Ketagihan.. Di dalam laut itu indah banget.

Ketagihan.. Melihat ikan dan di liatin ikan di bawah sana.

Ketagihan.. Menikmasti ciptaan Tuhan yang sungguh Ruarrrr Biasaa!

Pertama kali Saya diving di Pramuka

Ya.. Pramuka menjadi saksi keberanian saya melawan rasa takut dan hawatir yang berlebihan. Pramuka menjadi tempat pertama saya menyelamkan diri 18m dibawah permukaan laut.

Jangan ditanya berapa kali mimisan karena susahnya equalize dan berujung memaksakan diri.. tapi kebahagian luar biasa saya adalah berhasil menaklukan ketakutan diri sendiri.

IMG_0025

The brick walls are there to show how badly we want something… *senyum lebarrrr.. 🙂

Iklan

One response to “I Can Dive..Dive..and Dive..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s