Candu Malu

Enak Banget hidup lo jalan-jalan terus..

Statement yang mungkin sering terdengar dari orang sekitar saya. Pernyataan itu saya nilai positif, merupakan basa basi yang dilontarkan orang yang sebenarnya tidak terlalu peduli.

Namun kemarin, parnyataan ke sekian ratus ribu muncul dari salah satu kawan yang sudah dekat sekali bahkan saya anggap sebagai saudara. Tak ubah dia melontarkannya karena peduli. disela pernyataan ia lontarkan, pertanyaan. Ia bertanya mengenai bagaimana cara saya menabung, rencana di masa depan, keberlangsungan karir beberapa tahun ke depan. Juga soal hubungan dengan keluarga yang sering ditingal pergi, dan kekasih hati yang belum juga kunjung tiba.. *haahaahaa

Saya mulai menanggapi pertanyaan ini secara serius. Jawabannya, sangat awam namun paling mendekati, Buat Saya “Perjalanan membuat saya menjadi malu”.

Perjalanan menyadarkan bahwa saya tidak ada apa-apanya di muka bumi. Kecil, kecil sekali. Perjalanan membuat saya menyayangi sesama manusia, karena seluruh bumi ini diisi oleh orang baik *setidaknya sejahat apapun orang, pasti ada sisi baik dalam hatinya..

Perjalanan adalah cara belajar beradaptasi yang paling sempurna sekaligus paling ekstream. Perjalanan mengajarkan saya menerima dan menghargai pemikiran, perkiraan dan kepercayaan yang ada. Perjalanan memaksa saya menerima semua jenis kemungkinan, semua jenis pemikiran, tak masalah akan setuju atau tidak.

Perjalanan membuat saya malu, malu karena saya tidak setulus pemilik hostel tempat saya menginap di penang, yang tulus menunggu kedatangan saya sampai pagi kemudian membuatkan teh panas dan menganggap saya seperti anaknya sendiri. Atau abang ojek di toraja yang rela menunggu berjam-jam sampai mengantuk hanya karena saya mau melihat sunset dari atas bukit, itu pun akhirnya terhalang awan.

Malu karena saya tidak segigih anak-anak Alor yang mengayuh sampan untuk bisa sekolah. Malu karena saya tak sesabar petugas loket karcis di jiuzhaigou karena bisa dengan tenang meladeni turis yang marah-marah. Malu karena saya tidak sebaik orang cina, yang dengan sopan melarang saya makan di restorannya karena ada menu yang tidak halal.

Rasa malu saya yang akhirnya membuat candu, candu yang terus menjelma. Mungkin itu pula yang dirasakan oleh orang-orang dengan segudang pengalaman dan kisah perjalnannya, namun ibarat padi, kian berisi maka kian merunduk.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s