Akhirnya FLORES Juga

Akhirnya kesampean juga saya jalan-jalan ke bagian lain dari Indonesia setelah sebelumnya tahun lalu sempat ke Derawan di Kalimantan Timur. Kali ini tujuannya Nusa Tenggara Timur, overland Flores dari timur sampai ke barat, dilanjut sailing trip di Kepulauan Komodo. Setidaknya ada 3 pintu masuk Flores yang cukup umum yaitu Labuan Bajo, Ende, dan Maumere. Saya memilih untuk start dari Maumere dan berakhir di Labuan Bajo, pertimbangannya adalah waktu berkunjung saya yang bertepatan dengan hari libur nasional sehingga ramalan saya Labuan Bajo akan banyak pengunjung, harga tiket melambung tinggi. Dan benar saja Maumere lebih bersabat, hal ini udah bisa terlihat dari jumlah penumpang pesawat.. hanya dua rombongan yang lumayan besar dalam satu pesawat yang saya tumpangi.. saya plus 5 orang kawan, dan satu lagi 10 orang rombongan diver ibu-ibu dan bapak-bapak..(dan ternyata mereka yang jadi kawan saya ketika diving di Maumere).

Perjalanan ke kepulauan flores ini seperti “umrah” untuk saya. Penantian tiket promo GTF yang gagal, nabung selama 1 tahun, dan cari tim sharecost selama beberapa bulan demi penghematan.. akhirnya terbayarkan sudah. Pertama kali nginjakin kaki di Bandara Frans Seda, maumere udah disambut dengan pemandangan bukit plus langit biru yang ramah banget.

dav

Saya memulai perjalanan ini dengan rute Jakarta – Bali (transit sekitar 2 jam) – Maumere, lalu dilanjut road trip dari Maumere sampai ke Labuan Bajo, terbang lagi Labuan Bajo – Bali (transit lagi 4 Jam, karena delay) – Jakarta.

Lama trip kali ini 9D8N dan ternyata ini pun belum semua kejelajah.. pengennya semua didatangi tapi apa daya.. jarak dari satu lokasi ke lokasi lain berjauhan jadilah intenary yang sudah disusun harus dirombak on the spot sesuai dengan waktu tempuh plus cuaca saat saya datang.

Kali ini saya tidak memilih Wae Rebo sebagai destinasi yang harus disinggahi, memang susah banget saat cari kawan jalan untuk trip ini. Setiap ada yang hubungi saya, selalu tanya “ke Wae Rebo gak kak?” atau “kenapa gak ke wae rebo kak?” dan akhirnya mereka gak jadi join.. haahaa..

Karena mental saya belum siap untuk naik ke wae rebo, “gak kuat nanjak kak” itu yang selalu saya jawab dari semua pertanyaan diatas..

Dan karena ga ke wae rebo, saya lebih memilih untuk ke Riung, walaupun letaknya agak jauh sendiri di sebelah utara tapi nyesel hanya semalam di riung.. for sure kalo mau merasakan ketenangan, autentic flores you must to go riung.

So, 9D8N di pulau flores kemana saja?

Pantai Koka, Maumere

DSC_0044

Datang menjelang sore ke pantai ini, sepi banget.. hanya saya dan 5 kawan saya yang ada disana. Berasa pantai sendiri.. jaraknya tempuh yang lumayan jauh banget dari pusat kota maumere, terbayar setibanya disana. Kalau kesini, cobalahn naik keatas bukitnya cukup bayar 5000 perorang tapi pemandangannya warbiasa.. dari atas buit ini terlihat bahwa pantai koka ini berbentu seperti “Love” iihh romantisnya..

Pulau Babi, Taman Laut Teluk Maumere

Spot diving terbaik di maumere ada di pulau ini. Kita bisa lihat patahan tsunami, memang coral-coralnya belum juga pulih 100% tapi cukup bikin saya terkejut.. visibility bagus, ikan & coralnya warna warni, dan satu hal.. seafan dimana-mana. Turun di 9 meter sudah disambut banyaknya seafan.

Menurut saya, untuk spot snorkeling memang kurang bagus.. lebih pas untuk Diving..karang yang sehat-sehat sudah mulai pulih di 7 meter kebawah.

Kelimutu, Ende

bdr

Tidak Pernah terbayang oleh saya, pada akhirnya bisa lihat dengan dua mata ini danau tiga warna. Sebelumnmya Cuma lihat di youtube atau televisi saja, apalagi pas dengar cerita beberapa orang yang sudah kesana tentang effort-nya buat lihat danau ini dari atas. Berapa ratus anak tangga yang harus mereka lalui, belum lagi harus bangun pagi buta tengah malam dengan diselimuti dinginnya udara.

Pagi itu, pukul 2 pagi driver yang akan mengantar kami ke kelimutu sudah siap di depan penginapan.. kebetulan saya menginap di kota ende,karena penginapan di Moni full semua. Jarak tempuh Ende Moni seitar 2 jam.

Setibanya di parkiran Taman Nasional Kelimutu, saya berfikiran gak akan ngoyo banget naik, kalau gak kuat yaudah nunggu dibawah aja.. tapi ketika sudah mulai jalan lalu naik dua tiga anak tangga liat kanan kiri gelap sepi takut juga kalau nunggu dibawah.. sampai akhirnya nyampe juga dipuncak, kalau orang-orang tracking ke atas sampai sekitar 30 menit saja, saya kurang lebih 45 menit heeheee.. lebih lama J

Tapi pemirrrsaaaa.. gak nyeeseeelll… cakep banget pas diatas.. no wonder semua orang dari penjur dunia berbondong-bondong kesini. Rela banget bangun pagi, gak pake mandi plus dingin dan ngosh ngoshan buat liat matahari terbit diatas danau ini.

Rumah Pengasingan Bung Karno & Taman Renung

Mungkin belum banyak yang tahu bahwa founding father negara kita, Bung Karno pernah tinggal di Ende selama empat tahun selama 1934-1938. Saat itu, Beliau ‘diasingkan’ oleh Belanda karena aktivitasnya di Partai Nasional Indonesia yang dianggap membahayakan pemerintahan Hindia Belanda.

Kesan pertama yang muncul dibenak saya ketika sampai di lokasi ini adalah “Hebat banget ya Pak Karno, Merenung aja bisa Jadi Pancasila” lalu “Kuat dan tabah banget ya dia, dari tanah jawa diasingkan ke ende yang entah seperti apa dulu kota ini.. pastinya masih sepi luar biasa” sebagai anak bangsa (cieeeleehh..) bangga punya bapak bangsa yang mau berkoban demi Negeri ini. Malu, karena gak ada seberapanya dari perjuangan beliau.. apa yang bisa saya berikan ke Negeri ini.

bty

Di Ende, kamu bisa napak tilas ke tempat-tempat yang memiliki arti penting bagi Bung Karno. Seperti misalnya Rumah Pengasingan di mana Bung Karno diasingkan bersama istrinya Inggit Garnasih, anak angkatnya Ratna Djuami dan Ibu Mertuanya, Amsi; Katedral Ende di mana Bung Karno dulu membangun relasi dengan para pastur; juga Taman Perenungan Rendo, yang merupakan tempat favorit di mana Bung Karno suka merenung di bawah pohon sukun bercabang lima, yang kelak hasil renungannya ini melahirkan butir-butir mutiara kebangsaan yang menjadi pokok pikiran Pancasila, yang merupakan dasar negara Indonesia.

Dasar orang hebat, walaupun fisiknya ‘dipenjara’ namun pikiran Bung Karno bisa merdeka. Merenung di bawah pohon sukun saja, bisa jadi Pancasila.

Bukit Cinta

bty

Balik dari Ende, rute perjalanan saya lanjut menuju Riung. Sepanjang perjalanan pemandangan bukit dan laut dimana-mana. Nah, niatan hati pengen mampir bukit senyum buat ngopi-ngopi plus ngelurusin pinggang tapi ternyata si driver ngajakinnya ke bukit cinta.. katanya ini tempat dia ngegombal sama pacarnya..

Blue Stone Beach

Bila kamu menuju riung dari arah Ende, jangan lupa singgah di pantai ini. Tepatnya di Kelurahan Ndoru Rea, kamu akan melewati sebuah pantai berpasir hitam dengan batuan hijau berserakan di pantainya. Pantai yang disebut blue stone beach ini, memiliki batuan berwarna hijau kebiruan beraneka ukuran yang tak akan pernah habis walaupun batuannya diambil tiap hari untuk diolah menjadi bahan bangunan hingga diekspor ke mancanegara.

bty

Ada sumber yang mengatakan, batuan tersebut berasal dari dalam laut yang kemudian terbawa arus hingga ke pantai. Harapan saya pribadi, semoga batuan tersebut tak akan pernah habis atau kalaupun terpaksa habis, semoga ada batu-batu lain penggantinya, misalkan batu permata, atau batu akik pancawarna.

Mbay

Selain melewati pantai batu hijau yang unik, rute perjalanan ke Riung juga akan melewati sebuah daerah eksotis yang bernama Mbay. Di Mbay, yang berkontur perbukitan yang membuat saya terbayang kayak di new zealand. Saya sampai di Mbay menjelang malam, pas banget matahari ingin masuk keperaduan.. pas bangetlah pefotoan sunset dulu disini. Naik keatas bukit, menjadi pilihan tepat memandang pesona Indonesia dari atas bercengkerama dengan sapi-sapi yang  berada di sana, atau sekadar berfoto dengan gaya kontemplatif untuk kemudian diunggah di Instagram.. J Sebuah check point yang sayang untuk dilewatkan.

Taman Nasional 17 Pulau Riung

Walaupun terletak di wilayah perairan Teluk Riung, namun ternyata cara termudah mencapai tempat ini adalah dengan melakukan road trip menuju Kecamatan Riung yang dapat dilakukan dari Ende atau Bajawa.

bty

Untuk menjelajah pulau-pulau di riung, sebenarnya bisa hanya dengan setengah hari saja.. tapi setelah lihat kehidupan bawah lautnya, satu hari dirasa urang banget.. apalagi setengah hari.

For sure riung is the best place for snorkeling menurut saya.. snorkeling saja sudah bisa ketemu ikan-ikan besar.. apalagi diving ya.. aahhh gak kebanyang

Dari sini, kamu tinggal menyewa kapal (atau membeli jika mampu) dari penduduk setempat untuk melakukan hopping island ke 17 pulau besar yang terdapat di Riung.

Beberapa pulau andalannya antara lain: Pulau Kalong yang merupakan tempat tinggal ribuan kelelawar, Pulau Tiga dengan pemandangan atas bukitnya yang menawan, juga Pulau Rutong dengan post card view-nya.

Manulalu, Bajawa

bdr

Sebenarnya saya hanya selewat saja disini, sebelum lanjut ke Labuan Bajo. Tetapi gak ada salahnya untuk menikmatinya dengan memanjaan diri santai-santai di Manulalu Bed & Breakfast. Saya menginap satu malam disini, kami tiba hampir tengah malam. Lokasinya yang hampir keluar kota Bajawa dan naik turun bukit ditengah malam hampir buat saya untuk berubah pikiran untuk menginap di kota bajawa saja. Tapi untungnya itu gak terjadi, kalau sampai terjadi mana bisa saya bangun tidur liat pemandangan bukit-bukit dan sepoinya kota bajawa plus ngopi cantik dengan pemadangan gunung Inerie.

bty

Sebagian besar kopi Arabika dari kawasan ini disangrai pada tingkat sedang (medium roasting) sehingga menghasilkan citarasa utama sebagai berikut: bau kopi bubuk kering (fragrance) dan bau kopi seduhan (aroma) kuat bernuansa bau bunga (floral), perisa (flavor) enak dan kuat, kekentalan (body) sedang sampai kental, keasaman (acidity) sedang, serta kesan rasa manis (sweetness) kuat.

Kampung Bena

Nggak jauh dari Manulalu, terdapat sebuah kampung tradisional yang seperti belum tersentuh peradaban dan teknologi, bernama Kampung Bena. Letaknya yang terdapata pada puncak bukit dan menghadap Gunung Inerie, diyakini merupakan ciri khas masyarakat lama pemuja gunung yang meyakini gunung sebagai tempat tinggal para dewa. Mereka percaya keberadaan Yeta, dewa yang bertahta di gunung, sekaligus pelindung Kampung Bena.

bty

Saat ini, terdapat 40 buah rumah tradisional yang mengelilingi Kampung Bena dengan badan kampung tumbuh memanjang dari utara ke selatan, dan beberapa bangunan megalitikum berada di tengah-tengah pekarangan kampung. Pintu masuk kampung hanya ada satu, pada bagian utara, sementara pada ujung selatan yang merupakan puncak kampung, terdapat view point sebuah tebing dengan pemandangan yang menawan.

Apabila diibaratkan dengan zaman sekarang, Kampung Bena ini adalah sebuah cluster perumahan, minus pos satpam dan kolam renang.

Sejak masuknya agama ke Flores, kini mayoritas penduduk Bena adalah penganut agama katolik, sehingga janganlah heran apabila kamu menemukan nama-nama orang yang keren di sini, seperti Maria, Theresia, atau bahkan Angelina. Untuk mata pencaharian, pada umumnya pria Bena berprofesi sebagai peladang sementara wanita Bena sebagai penenun.

Danau Ranamese

Dalam perjalanan menuju Ruteng, saya sempat mampir ke Danau Ranamese yang terletak di Kabupaten Manggarai Timur. Saya hanya melihatnya dari kejauhan, saat itu cuaca sedang kurang bersahabat.. mendung tiada tara, sehingga danau yang seharusnya berwarna hijau terlihat hitam diselimuti kabut awan.

Sawah Jaring Laba-laba Cancar

Tak jauh dari Ruteng, terdapat sebuah fenomena buatan menarik bernama sawah jaring laba-laba, yang berlokasi di Cancar. Berbeda dengan sawah pada umumnya yang lempeng atau kadang berundak-undak, sawah di sini dibentuk menyerupai jaring laba-laba.

Bukan, bukan oleh alien seperti crop circle, namun ini adalah pembagian sawah sesuai dengan tradisi kuno penduduk Flores atau tepatnya yang berdomisili di wilayah Manggarai. Sejak dulu, masyarakat Manggarai telah mengenal tradisi pembagian sawah yang telah dilakukan turun temurun. Secara harafiah, sawah yang terbagi ini disebut dengan lingko yang berarti tanah adat yang dimiliki bersama oleh penduduk, dan dikelola bersama untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Lingko ini juga tidak dimiliki perorangan seperti tanah milik suku Betawi, tetapi dimiliki oleh setiap suku yang berdiam di wilayah tersebut. Setiap suku ini memiliki tetua yang bertugas untuk membagi besarnya lingko dengan menggunakan sistem pembagian lingko yang disebut lodok.

Berdasarkan lodok, pembagian tanah dilakukan pertama-tama dengan menentukan titik pusat hamparan tanah adat. Kemudian, pada titik pusat ditanam kayu khusus, yang kemudian digunakan untuk membagi sawah dengan garis-garis simetris menjauhi pusat. Tanpa disadari, pembagian ini ternyata membentuk sawah seperti jaring laba-laba, dengan besar kecilnya tanah ditentukan dari kedudukan seseorang dalam kampung dan jumlah keluarga yang dimiliki. Semakin tinggi kedudukannya, semakin besar pula tanah yang didapat.

Taman Nasional Komodo

Siapa sih yang gak tau KODOMO? Ponakan saya aja tau, komodo itu temannya kak seto.. Yeeayyy akhirnya ketemu komodo.. pada akhir 2010 ketika komodo sedang menjadi bintang dari segala binatang, saya mengucap “Gue mau tau sebesar apa komodo kok bisa makan orang” dan pas lihat ketautan.. haahaahaa

bdr

Untuk ketemu si komodo ada 2 lokasi yang sudah umum bisa kamu datengin, yaitu di Pulau Rinca dan di Pulau Komodo. Populasi di pulau rinca ini lebih sedikit jumlahnya ketimbang di pulau komodonya sendiri, namun komodo yang di pulai rinca ini nalurinya lebih alami ketimbang komodo di pulau komodo. Sebenarnya di Indonesia sendiri selain di Taman Nasional Komdo, ada beberpa lokasi lain yang dihuni oleh komodo, hanya saja di taman nasional ini komodonya masih memilii naluri “kekomodoan” yang alami ketimbang lokasi-lokasi tersebut (sempat dikasih tau nama lokasinya, tapi lupa apa namanya..)

bty

Oya, ada dua alternatif yang bisa dicoba untuk menjelajahi taman nasional ini, yaitu dengan LOB (Live on Board) atau dengan Stay on Land with a day sailing. Jadi kalian bisa pilih untuk tinggal dikapal atau menginap di darat baru keesokan harinya keliling pulau-pulau sekitar dan kembali lagi ke penginapan. Plusnya LOB adalah lebih menghemat waktu tempuh, karena dari satu pulau ke pulau lain jaraknya cukup lumayan.. ambil contoh dari Pulau kelor ke Pulau Padar Butuh waktu urang lebih satu setangah jam.. bisa bayangin berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk nge-eksplore satu pulau plus waktu tempuh PP kalau memutuskan untuk menginap di darat.

bty

Tapi memang tantangan sari LOB adalah kemungkinan ombak yang terasa saat tidur dan terbatasnya air tawar untuk bersih-bersih diri.

Pulang LOB-an saya masih berasa seperti tidur diayun..

Kata orang belum ke Flores kalau belum mencicipi kuliner lokalnya. Yang biasa ditemui, tentu saja ikan bakar yang bisa dinikmati dengan nasi bambu, sayur terung, dan sambal yang terbuat dari Lombok Flores, yang lebih imut dari cabai rawit namun super pedas, jadi kalau gak suka pedas, atau gak kuat dengan pedasnya sambal, jangan coba-coba makan sambal flores.

Oya konon katanya, ikan bakar yang berasal dari pantai berpasir hitam akan lebih enak dibandingkan yang berasal dari pantai berpasir putih.

Flores juga terkenal dengan buah-buahannya, yang jadi primadona adalah Alpukat Mentega dan markisa. Saya sempat pesimis, ketika mobil yang saya tumpangi mampir ke sebuah warung yang menjajakan buah di pinggir jalan menuju Bajawa. “Ah, paling sama saja rasanya” Batin saya. Namun ternyata saya salah, karena di Flores, saya menemukan buah alpukat terenak yang pernah saya cicipi. Belum lagi rasa durian dan jambu biji merahnya yang nikmat.

Nilai plusnya, buah-buahan di sini harganya sangat murah, misalnya, kamu dapat membeli lima butir alpokat hanya dengan harga dua puluh ribu Rupiah saja, sementara kalau di Jakarta, segelas jus alpokat yang isinya hanya satu buah saja harganya lebih dari sepuluh ribu Rupiah.

Berbicara jus alpokat, gak ada salahnya untuk mencoba kenikmatan alpokat asli Flores. Dagingnya yang berwarna kuning mentega kehijauan, nikmatnya gak ketulungan kalau diblender dengan dengan es batu.

Kalau mau beli jus alpukat disini, tanyanya “ ada jus avokad, ma?” karena itu yang sesuai dengan KBBI, dan lebih dimengerti oleh penduduk Flores..

Note:

Gimana caranya menuju flores?

Ada 3 pintu masuk Flores yang cukup umum dilalui, yaitu Labuan Bajo, Ende, dan Maumere. Mengingat popularitasnya, harga tiket ke Labuan Bajo biasanya lebih mahal ketimbang tiket ke Ende atau pun Maumere. Oleh karena itu, Anda sebaiknya menghitung terlebih dahulu total harga tiket pada periode kunjungan yang Anda inginkan dan menemukan yang paling murah, apakah misalnya Jakarta-Labuan Bajo dan Ende/Maumere-Jakarta atau Jakarta-Ende/Maumere dan Labuan Bajo-Jakarta.

Kapan waktu yang tepat berkunjung ke flores?

Secara umum, Flores bisa dikunjungi sepanjang tahun, kecuali area Taman Nasional Komodo yang memerlukan perjalanan laut sehingga akan bergantung pada kondisi laut dan ombak. Dari pengalaman pribadi dan beberapa orang teman yang pernah ke sana, periode bulan Juni-Juli adalah yang terbaik, cuaca cenderung tidak hujan, ombak relatif tenang, dan sunrise dan sunset pun jelas terlihat.

Berapa budget yang dibutuhin buat keliling flores?

Budgeting bisa dibilang hampir tidak mengikat karena sangat bergantung pada periode perjalanan dan selera, kebiasaan, serta standar kenyamanan masing-masing individu. Namun sebagai gambaran, Anda perlu menyiapkan budget untuk beberapa hal berikut:

  1. Biaya sewa kapal untuk live on board (LOB) ke Taman Nasional Komodo, paling murah, per kapal dengan kapasitas 10 orang dengan fasilitas standart adalah sekitar Rp. 3.500.000,00 – Rp. 5.000.000,00/ day.
  2. Biaya transportasi lokal antar kota, jika naik mobil travel, biaya bervariasi tergantung jarak tempuh, namun umumnya berkisar antara Rp.50.000 –Rp.150.000.
  3. Jika ingin sewa mobil, biayanya dipatok mulai dari Rp. 700.000/day (termasuk bensin dan supir). Ada beberpa driver yang menerapkan biaya empty run, jika Anda menyewa dengan rute yang jauh, Labuan Bajo-Ende/Maumere atau sebaliknya, mereka akan mengenakan biaya sewa tambahan sebesar 1 hari.
  4. Biaya sewa kapal untuk snorkeling dan hopping island di Taman Wisata Alam Laut Riung 17 Pulau sebesar Rp. 500.000 untuk kapasitas 8 orang (tidak termasuk biaya sewa alat snorkeling). Bila ingin tambah makan siang di pulau, dikenakan tambahan Rp. 75000/ person.
  5. Penginapan cukup bervariasi, yang termurah bisa mulai dari Rp. 100.000/ malam. Anda mungkin ingin menyiapkan budget setidaknya Rp.250.000,00 per malam untuk penginapan.

Bila anda butuh detail contact person, untuk sewa kapal dan mobil silahkan message saya, I will share if you need and asking me..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s